Angkot dan Orang-Orang
Sebenarnya ini cerita bulan lalu, tapi belum sempat saya unggah. Kalau sekarang, tidak terlalu basi, kan? Saya bertemu seorang kakek ketika angkot yang saya tumpangi berhenti di depan pasar. Ia naik dengan tangan yang dipenuhi dengan kantong belanjaan. “Kakek, habis belanja banyak. Soalnya sebentar lagi puasa.” Saya bisa melihat beberapa buah dari lubang kantong belanjaannya dan hanya tersenyum untuk menjawab ucapannya. Tiba-tiba ia bertanya pada dua orang perempuan yang duduk di sebelahnya. “Masih sekolah?” “Sudah kuliah, Pak.” Kemudian bertanya pada saya yang kebetulan duduk di dekat pintu, “kalau kamu?” “Baru lulus SMA kemarin.” Jawab saya dengan senyuman. “Bagus. Sekolah itu penting. Kalian tidak boleh tidak sekolah. Pendidikan itu nomor satu.” Saya mengangguk setuju, begitupun kedua anak kuliah disampingnya. Waktu itu angkot tidak terlalu ramai. Hanya kami bereempat dan sopir yang mengemudi. Ia bercerita kalau ia seorang y...