Angkot dan Orang-Orang


Sebenarnya ini cerita bulan lalu, tapi belum sempat saya unggah. Kalau sekarang, tidak terlalu basi, kan?

Saya bertemu seorang kakek ketika angkot yang saya tumpangi berhenti di depan pasar. Ia naik dengan tangan yang dipenuhi dengan kantong belanjaan.

“Kakek, habis belanja banyak. Soalnya sebentar lagi puasa.”

Saya bisa melihat beberapa buah dari lubang kantong belanjaannya dan hanya tersenyum untuk menjawab ucapannya.

Tiba-tiba ia bertanya pada dua orang perempuan yang duduk di sebelahnya.

“Masih sekolah?”

“Sudah kuliah, Pak.”

Kemudian bertanya pada saya yang kebetulan duduk di dekat pintu, “kalau kamu?”

“Baru lulus SMA kemarin.”  Jawab saya dengan senyuman.

“Bagus. Sekolah itu penting. Kalian tidak boleh tidak sekolah. Pendidikan itu nomor satu.”

Saya mengangguk setuju, begitupun kedua anak kuliah disampingnya.

Waktu itu angkot tidak terlalu ramai. Hanya kami bereempat dan sopir yang mengemudi.

Ia bercerita kalau ia seorang yatim piatu sejak umur 4 tahun dan senang sekali karena bisa mengenyam bangku STM ((kalau sekarang sebutannya SMA)) dan berhasil lulus. Sekarang umurnya 75 tahun. Katanya, orang-orang dulu heran karena ia bisa lulus STM padahal ia yatim piatu.

“Kalau dulu saya tidak memikirkan sekolah saya. Sama saja saya merusak diri saya sendiri.”

Semangatnya masih membara seperti dulu, terlihat jelas dari caranya menceritakan kisah hidupnya. 

Seharusnya dulu ia menjadi guru, tapi ia menolaknya. Kutanya mengapa, ia bilang ia lebih ingin naik kapal dan mengelilingi Indonesia. Singgah di kota-kota lalu mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya. Tidak apa tidak jadi guru yang penting sudah mengelilingi tanah air dari sabang sampai merauke karena punya pengalaman yang banyak itu menyenangkan dan di sisi lain, kala itu pendapatan seorang guru belum terlalu tinggi seperti sekarang. 

“Kapal itu membawa saya keliling Indonesia. Saya sudah pernah menginjak Palembang, Surabaya, Padang, Ambon, dan masih banyak lagi.”

Saya tak henti-hentinya mengeluarkan decakan kagum.

“Punya banyak pengalaman itu menyenangkan. Kalian ini harus punya banyak pengalaman, supaya kalau tua, ada yang bisa kalian ceritakan ke cucu-cucu kalian ha ha ha.”

Kami tertawa bersama.

Ia juga sempat memuji istrinya dengan bangga. Istrinya dulu seorang perawat dan sekarang sudah pensiun. Uang pensiunannya sangat lebih dari cukup untuk menghidupi keduanya. Anaknya ada tiga dan sudah besar-besar semua. Semuanya sudah sarjana dan ia sangat senang karena anaknya juga sangat mementingkan pendidikan.

“Dulu, sebelum bertemu Ibu,” 

Ia memanggil istrinya dengan sebutan Ibu.

“Saya ini sudah putus asa soal cinta. Mana ada yang mau dengan saya ini. Yatim piatu yang kerjanya tak tentu.”

Sesekali ia berdeham. Membasahi kerongkongannya yang mulai kering karena terus berbicara.

“Waktu itu saya ikut kapal ke Surabaya. Saya tinggal di sana lumayan lama. Mencari pekerjaan dan merintis kehidupan. Tak sengaja saya bertemu dengan Ibu. Beliau masih mahasiswi kesehatan tingkat akhir kala itu. Ibu yang lebih dulu mengatakan kalau beliau suka sama saya.”

Angkot berhenti di dekat jembatan layang di ujung jalan A.P. Pettarani untuk menunggu penumpang beberapa menit. Biasanya saya merasa malas sekali kalau angkotnya sudah berhenti di sini. Tapi kali ini, ada kakek yang terus bercerita dan telinga saya terus terbuka lebar, siap mendengarnya. 

“Saya berpikir mungkin ini jodoh saya, ya saya jawab saja, ‘Saya juga suka sama kamu kalau kamu suka sama saya.’ Ha ha ha. Benar, tidak? Ha ha ha.”

Kami tertawa lagi. 
Ia berpikir begitu karena tidak ingin cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dia tidak akan suka dengan orang yang tidak menyukainya kembali. Ia juga percaya kalau jodoh itu sudah diatur.

“Setelah Ibu sarjana, kami menikah dan saya membawanya ke Makassar.

Dulu Makassar tidak seperti ini. Belum ada bangunan-bangunan tinggi, belum ada jalanan A.P. Pettarani, yang ada hanya hamparan sawah.”

“Bagaimana pekerjaan Bapak di Surabaya?” Tanya anak kuliah itu.

“Rezeki itu sudah diatur, Nak, sama dengan jodoh. Saya memilih meninggalkannya lalu pulang ke Makassar. Mungkin ada rezeki di sini. Ternyata benar. Tuhan itu maha pemurah sekali. Ibu diterima di rumah sakit yang cukup besar kala itu, padahal ia baru-baru saja lulus.

Bapak dapat pekerjaan beberapa tahun kemudian. Ya bapak mungkin harus jaga anak dulu baru kerja. Kerjanya juga tidak berat-berat. Ibu sudah sibuk, kalau bapak sibuk juga, siapa yang jaga anak?”

Bicara soal jodoh, ia kemudian bercerita tentang anaknya.

“Anak saya sudah menikah semua. Sekarang saya cuma tinggal dengan Ibu. Jodoh mereka pilih sendiri. Saya tidak mau ikut campur. Kalau saya yang menjodohkan dan ada masalah dengan mereka, pasti saya yang disalahkan. Saya tidak mau anak saya dosa sama saya.”

Saya mengangguk, setuju dengan caranya berpikir.

Dia juga membahas tentang bagaimana pengaruh sosial media sekarang. Selama hidupnya, ia tidak pernah memiliki handphone.
“Main sosial media itu tidak ada gunanya. Rugi, buang-buang waktu saja. Banyak, lho, sekarang orang yang main faceb**k jadi korban kekerasan. Kalian hati-hati. Mending tidak usah main. Kalau ada, ya lebih baik di hapus saja.”

Tidak lama angkotnya berhenti di depan kampus dan turunlah kedua anak kuliah tadi.

Hanya tersisa kami berdua. Banyak jeda setelah itu. Hanya pertanyaan-pertanyaan sederhana yang ia lontarkan setelahnya. Seperti mau kuliah di mana, kampungnya di mana, dan sebagainya.

Ketika sudah sampai di tujuannya dia mengulurkan tangannya sambil tersenyum lebar dan tentu saja saya sambut dan membalas senyumannya.

“Hati-hati, Nak.”

“Bapak juga hati-hati.”

Kakek itu benar-benar membuat saya kagum. Bagaimana ia bisa rela melewatkan kesempatannya menjadi guru dan memilih ikut kapal tanpa tahu dia akan dibawa kemana. Padahal jadi guru pekerjaannya sudah jelas dan tetap dibandingkan dengan ikut di kapal membantu orang mengangkat barang atau apapun yang bisa dikerjakan di atas kapal. Apapun yang penting bisa menginjak Surabaya, Padang, Ambon dan lainnya. Saya merasa seperti cucu yang sedang diceritakan pengalaman hidup oleh kakeknya. 

Salah satu alasan saya tidak pernah berpaling dari angkot adalah ini. Bertemu orang-orang baru dengan cerita berbeda-beda. 

Kita naik di angkot yang sama dengan tujuan yang berbeda-beda, tapi melalui jalur yang sama. Mungkin lama karena banyak singgahnya, tapi itu membuat kita lebih menghargai perjalanan. 

Kita bisa memilih untuk bangun lebih awal dan menaiki angkot, lalu bertemu orang-orang baru, atau bangun terlambat dan memilih transportasi yang lebih praktis dan hanya menemui satu orang saja selama perjalanan.

Kau pilih yang mana?
Keduanya juga boleh. Tapi jangan terus-terusan pilih yang praktis karena yang membutuhkan banyak waktu kadang memberikan lebih banyak makna.

Comments

Popular posts from this blog

Kesempatan dan Pelajaran

Menjadi Dewasa

11th Of September