Kesempatan dan Pelajaran


Akhir-akhir ini saya belajar kalau setiap hal selalu memiliki kekurangan dan kelebihan dan manusia tidak akan pernah puas dengan itu.

Awal semester 7, dua hari setelah pulang kkn, saya disibukkan dengan laporan kkn, kuliah offline setelah dua tahun online–walaupun hanya empat kelas, jabatan di himpunan, dan ajakan magang di penerbitan kampus. Satu minggu full saya disibukkan dengan empat hal tersebut. Semuanya menuntut untuk dikerjakan dan rasanya tidak ada waktu jeda setelah kkn.

Saat itu saya merasa semester akhir dengan sedikit kelas dan jabatan yang sebentar lagi saya lepaskan harusnya bisa membuat saya memiliki waktu istirahat dan kumpul bersama teman-teman yang lebih banyak setelah melewati hiruk pikuk kkn dan hal-hal sebelum itu. Banyak film yang saya tunda untuk ditonton, buku untuk dibaca, dan berbagai hal untuk dilakukan. 

Setelah mempertimbangkan banyak hal, memikirkan keputusan terbaik, saya memilih untuk berhenti magang setelah seminggu dan berhasil melayout satu buku which is 500 halaman mengenai Epidemiologi yang rumus dan tabelnya banyak sekali minta ampun. Merelakan kesempatan, meskipun telah mencicipinya sedikit. Yup, it's a big loss for me, but it's okay. I'll be fine.

Setelah grieving selama seminggu—itu pertama kaliku merasakan resign dari tempat kerja, menyelesaikan laporan kkn, salah satu kelasku tidak jadi karena ada konvergensi mata kuliah, satu lagi online karena dosennya mau begitu—jadi hanya 2 kelas yang offline, dan menyelesaikan beberapa tugas himpunan, lalu minggu-minggu berikutnya semakin sepi. Hanya diisi dengan beberapa temanku yang lebih dulu melangkah ke dalam kehidupan skripsi, teman-temanku yang hampir seluruhnya sudah mengisi blangko judul, dan dua hari kelas offline

Lalu, saya kemudian mempertanyakan keputusanku yang kemarin. Dan sedikit menyesalinya. Bukankah ini yang kau mau dari awal, Re? Memiliki waktu luang agar bisa nonton film dan baca buku sebanyak yang kau mau? Lalu kenapa kau menyesalinya? Kenapa kau tetap tidak menonton film dan membaca buku sebanyak yang kau mau?

Tapi dari ini semua, saya banyak belajar. Mau sibuk ataupun santai sama saja. Dulu ketika hidupku penuh dengan kesibukan, saya ingin waktu luang yang lebih banyak, tapi ketika memiliki waktu luang, saya malah merindukan hari-hari yang penuh dengan kegiatan dan pekerjaan. Manusia memang tidak pernah puas, bukan? Dan saya sudah membuktikannya sendiri. Menjadi manusia seperti itu sangat tidak keren. 

Salahku memang, belum tau cara mengatur waktu dan terlalu ingin santai. Cia bilang, kesempatan lain akan datang. Dan saya harap saya tidak akan melakukan hal yang sama jika kesempatan itu benar-benar datang. Setidaknya saya harus bertahan lebih lama sebelum benar-benar memutuskan untuk berhenti. Saya mau menjadi manusia yang selalu merasa cukup.

Tidak apa-apa. Pengalaman dan pelajaran yang kudapatkan sudah cukup berharga. Ambil hal-hal baik darinya and soon i'll be fine, right?

Comments

Popular posts from this blog

Menjadi Dewasa

11th Of September