Andri dan Kebaikan

Tadi malam, bumi kehilangan satu orang baik. 

Andri, nama orang baik itu. Dia pulang meninggalkan banyak kebaikan.

Sejak kecil, warung bakso milik Bapak dan Ibunya menjadi tempat makan alternatif ketika rumahku tidak menyediakan makanan.  Mulai beranjak dewasa, Ibunya berpulang lebih dulu. Dia membantu Ayahnya menjual dan sering kali memberi keluargaku bonus ketika membeli di warungnya. Dia bahkan selalu mengambil alih ketika keluargaku yang datang dibanding Yu Inem-tantenya yang selalu membantu. Dia juga sering kali memberi resep baru yang tidak terdaftar dalam menu warungnya dan memasaknya dengan enak. Nasi goreng putih dengan irisan rawit, batagor dengan gorengan dan bumbu kacang dari gado-gado, dan lain-lain. Dia selalu mengajak kami bercerita ketika makan di tempatnya, menyapa ketika berpapasan di jalan atau di manapun. Saya masih ingat bagaimana wajahnya tersenyum dengan helm di kepalanya dan belanjaan dari pasar di sisi kiri kanan motor maticnya seperti tukang paket, tidak lupa kacamata bertengger di hidungnya. Senyumnya selalu terlihat tulus dengan bibirnya yang melengkung sempurna dan matanya yang menyipit. 

Semua makanan yang pernah dia masak dengan enak dan ikhlas menjadi hal baik yang tertanam dalam tubuh orang-orang yang pernah menyantapnya dan kebaikan apapun yang dibuat orang-orang itu akan bergulir kepada Andri juga.

Andri mungkin berpulang kepada pemilik-Nya, tetapi dia meninggalkan kebaikan yang akan selalu membekas dan sepertinya ia merasa senang karena bertemu dengan Ibunya duluan, mungkin juga ada rasa sedih karena harus meninggalkan Ayah dan kakak perempuannya lebih dulu. 

Andri bukan hanya seorang tetangga yang baik, penjual bakso yang memasak dengan baik, tetapi juga sahabat yang baik. Dia adalah bukti nyata kalau menjadi apapun boleh saja asalkan baik. 

He left the world with a legacy, namely a kindness.

Comments

Popular posts from this blog

Kesempatan dan Pelajaran

Menjadi Dewasa

11th Of September