Dere dan Kenanga(n)
How come a certain scent, taste, place, and music could bring back so much memory?
Kalau Dere punya Jalan Kenanga, maka saya punya Jalan Dr. Sutomo sampai Jalan Lasinrang. Dere dan dua ribu lima dengan masa kecilnya, saya dan dua ribu enam dengan masa awal sekolah dasar.
Beberapa waktu lalu ketika mengurus beberapa keperluan seminar tugas akhir, tidak sengaja ojek onlineku berputar melewati jalan Dr. Sutomo padahal tujuanku berada di jalan Lasinrang. Menyusuri sepanjang jalan Dr. Sutomo membawaku kembali ke tahun-tahun awal sekolah dasar lalu membandingkannya dengan keadaan sekarang, tujuh belas tahun kemudian. Penjual ikan bakar di pojok masih ada, telepon umum di depan sudut wisma sudah tidak ada. Beberapa kafe baru kekinian yang membuat bangunan Mangkura tidak sebesar dulu, mobil angkutan sekolah yang terparkir juga tidak seramai dulu, tidak tau kalau jam segitu mereka lagi mengantar/menjemput atau memang sudah tidak ada. Penjual bakso di seberang gerbang Mangkura pas di depan perumahan juga sudah tidak ada, tapi penjual mie tumis gerobak masih ada. Banyak sekali yang berubah. Tujuh belas tahun memang bukan waktu yang singkat, cukup panjang untuk banyak perubahan.
Roda dua itu terus melaju melewati perempatan jalan Karunrung lalu menyeberang hingga masuk ke jalan Lasinrang. Toko kue di sudut masih sama dengan penjual soto ayam dan gado-gado di depannya. Begitupun toko-toko lainnya di sepanjang jalan itu. Sangat kontras dengan Dr. Sutomo, Lasinrang tidak banyak berubah. Hanya sudut seberang toko kue yang berubah, dulu toko sepatu menjadi toko kelontong.
Setelah sampai dan memesan nasi kotak untuk seminar nanti di salah satu restoran legend menurutku, saya memutuskan untuk jalan kaki menuju toko kue di sudut jalan tadi. Memesan satu porsi soto ayam dan meminta tambahan kerupuk di piring kecil. Karena letaknya yang berada di depan toko membuat pandanganku bisa melihat ke sekitar jalan ini. Lagi-lagi, sambil terus menyuapkan soto ke mulut, pikiranku kembali berlanjut ke masa-masa awal sekolah dasar. Dulu, Ibuk dan saya sering makan di sini. Ibuk memesan soto ayam dan saya gado-gado. Dulu, Mas penjual yang sampai sekarang tidak kutahu namanya menjual dengan adiknya yang umurnya hampir sepantaran denganku, sekarang adiknya yang menjual dengan satu orang lagi yang tidak ku kenali. Pernah satu momen, saya meninggalkan topi sekolah di mejanya dan mas penjual menyimpannya dan memberikan ke Ibuk ketika kami kembali berkunjung. Kalau dulu saya masih di awal tahun sekolah dasar dan makan berdua dengan Ibuk, sekarang sebentar lagi saya menyelesaikan tugas akhir untuk mendapatkan gelar dan memutuskan makan sendirian. Beda kini roda... tapi rasa soto dan gado-gadonya masih sama.
Dulu sepulang sekolah, selain makan soto dan gado-gado di depan toko kue tadi atau membeli dorayaki di dalamnya, Ibuk juga senang singgah makan di tempat bakmie yang juga menjual sate donat tidak jauh dari sini atau makan coto yang sekarang sudah tutup dan tidak tahu pindah kemana. Juga menemani Ibuk singgah menyewa kaset film India terbaru di VideoEzy sambil melihat-lihat berbagai kaset kartun yang juga ikut kupinjam jika Ibuk mendapat promo member. Atau singgah di Toserba yang lagi-lagi sekarang sudah tidak ada untuk membeli snack coklat dan mainan tongkat peri berbentuk bintang.
Kalau Dere dengan kenangan sepatu roda dan rambut basah sehabis mandi sorenya, maka saya dengan kenangan berbagai toko makanan dan baju seragam sehabis pulang sekolah.
Menyambut dewasa dan semua seluk cerita
Entah kini apa
Entah besok apa tak enak jadi dewasa
Ya, tidak?



Comments
Post a Comment